Music

Kamis, 18 Februari 2016

OSEANOGRAFI




PENGUKURAN DAN PENGAMATAN OSEANOGRAFI

DI PERAIRAN TELUK TOMINI DUSUN TAMENDAO DESA OLIMOO’O KECAMATAN BATUDAA PANTAI KEBUPATEN GORONTALO




LAPORAN KEGIATAN



OLEH

SURYANINGRAT ANA





FORUM KAJIAN PENELITI PERIKANAN
KOMUNITAS DEHETO HULONTHALO
FISHERIES OF RESEARCH
2015













BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Oseanogarfi merupakan ilmu yang mempelajari tentang lautan. Oseanografi merupakan ilmu yang memadukan ilmu-ilmu lain, seperti ilmu fisika (physics) yang mempelajari masalah-masalah fisis laut seperti arus, gelombang, pasang surut dan temperatur air laut, kimia (chemistry), yang mempelajari masalah-masalah kimiawi di laut, dan yang terakhir. Saat ini oseanografi merupakan suatu sumber penelitian yang aktif dan berkembang yang menyebardi seluruh dunia (Hutabarat dan Evans,1985).
Oseanografi diartikan secara sederhana sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang lautan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Oseanografi ini merupakan ilmu perpaduan dari bermacam-macam ilmu dasar seperti ilmu tanah (geologi), ilmu bumi (geografi), dan ilmu iklim (Hutabarat dan Evans ,2000). Banyak faktor yang mempengaruhi kehidupan di laut seperti fisik, kimia dan biologi (Romimohtarto 2001). Parameter fisik oseanografi meliputi kemiringan pantai, pasang surut, kecepatan angin, arah angin, gelombang, suhu air dan suhu udara. Parameter kimia yang diamati meiliputi DO, CO2, alkalinitas, salinitas, pH dan kecerahan. Parameter biologi yang diamatai adalah densitas plankton, diversitas plankton dan larva ikan. Arus yang terjadi diperairan Indonesia selama Muson Tenggara umumnya lebih kuat dari pada di Muson Barat Laut. (Wyrtki, 1961). Pergantian musim mengakibatkan terjadinya perubahan terhadap kondisi hidrologi perairan (Schalk,1987). Suhu perairan Indonesia pada dasarnya berkisar antara 25 – 30oC dan akan menurun satu atau dua derajat dengan kedalamannya meningkat hingga 80 db (Tomascik et al. 1997).
Teluk Tomini merupakan perairan teluk terluas di Indonesia serta memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.  Pentingnya ekspedisi ini adalah untuk melihat sejauh mana potensi Teluk Tomini dan nantinya akan dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakat. Karena, kemiskinan masyarakat banyak terdapat di pesisir-pesisir. Untuk itulah, pengelolaan perikanan dan kelautan harus diselamatkan.  Setidaknya ekspedisi ini bukan hanya untuk penelitian tetapi juga pengembangan wilayah minimal untuk kawasan Wallacea, sehingga nantinya bisa dilakukan pengelolaan secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Kawasan laut di Provinsi Gorontalo, terutama di Teluk Gorontalo atau Teluk Tomini, menyimpan banyak potensi alam karena merupakan satu teluk yang dilalui garis khatulistiwa. Perikanan dan kelautan merupakan sector unggulan bagi Provinsi Gorontalo yang memiliki garis pantai yang cukup panjang. Garis pantai wilayah Utara dan Selatan masing-masing memiliki panjang sekitar 270 kilometer dan 320 kilometer. Potensi sumber daya perikanan di Provinsi Gorontalo berada di tiga perairan, yakni Teluk Tomini (Teluk Gorontalo), Laut Sulawesi, dan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Laut Sulawesi. Tetapi, tingkat pemanfaatan perikanan tangkap baru 24,05% atau 19.771 ton per tahun.
Desa Olimoo’o adalah salah satu desa yang berada di Batudaa Pantai yang berbatasan langsung dengan perairan laut Teluk Tomini. Pada Tahun 2008 Desa Olimoo’o diusulkan jadi desa Model Pesisir dalam rangka Launching Desa-desa Model oleh Bapak Presiden Republik Indonesia di Provinsi Kalimantan Tengah pada Bulan Februari 2008, sesuai Surat Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia Nomor :B.006/M-PDT/I/2008 Tanggal 21 Januari 2008 (Profil Desa Olimoo’o, 2004 dalam Umar, 2014).
Batas wilayah Desa Olimoo’o secara administrasi adalah sebelah  Utara berbatasan dengan Desa Ambara Kecamatan Bongomeme, sedangkan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Lamu Kecamatan Batudaa Pantai, sebelah Selatan berbatasan dengan perairan Teluk Tomini dan sebelah Barat Desa Olimoo’o berbatasan dengan Desa Biluhu Tengah, Kecamatan Biluhu.
Desa Olimoo’o terbagi menjadi 3 (tiga) dusun yaitu Dusun Tanggi, Dusun Bilato, dan Dusun Tamendao. Jumlah penduduk Desa Olimoo’o adalah sebanyak 737 jiwa dengan kepala keluarga sebanyak 181 KK. Desa Olimoo’o salah satu desa dari 7 desa yang ada di Kecamatan Batudaa Pantai dengan letak geografisnya : N = 00’   29’   367”   ( L.U ), E = 122’   52’   810’’  ( B.T ) dengan luas 1350 Ha (Profil Desa Olimoo’o, 2004 dalam Umar, 2014).
Karakteristik pantai Desa Olimoo’o berbeda dengan desa lainnya yang berada di Kecamatan Batudaa Pantai, dimana tipe pantai desa Olimoo’o berbatu, sedangkan desa-desa lainnya memiliki pantai berpasir dan bersih, sehingga dijadikan sebagai tempat wisata pantai oleh masyarakat.
1.2    Tujuan
Tujuan dari praktikum oseanografi adalah untuk melakukan pengukuran dan pengamatan oseanografi di perairan teluk Tomini khususnya di Dusun Tamendao, Desa Olimoo’o, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo.



1.3    Manfaat
Adapun manfaat dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat memahami secara baik teknik pengukuran dan kondisi perairan, dan dapat mengetahui beberapa faktor fisik, kimia suatu perairan.












BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1    Tipe Pantai
Pantai merupakan suatu wilayah yang dimulai dari titik terendah air laut pada waktu surut hingga arah ke daratan sampai batas paling jauh gelombang atau ombak menjulur ke daratan yang ditandai dengan garis pantai. Garis pantai (shore line) merupakan tempat pertemuan antara air laut dan daratan. Garis pantai ini setiap saat berubah-ubah sesuai dengan perubahan pasang surut air laut (Mahfudz , 2012 dalam Armos, 2013).
Umumnya morfologi dan tipe pantai sangat ditentukan oleh intensitas, frekuensi dan kekuatan energi yang menerpa pantai tersebut. Daerah yang berenergi rendah, biasanya landai, bersedimen pasir halus atau lumpur, sedangkan yang terkena energi berkekuatan tinggi biasanya terjal, berbatu atau berpasir kasar (Soegiarto, 1993 dalam Armos, 2013).
Tipe pantai dapat dilihat dari jenis substart atau sedimen yang didukung dengan pengamatan secara visual. Dalam Pedoman Perencanaan Bangunan Pengaman Pantai Indonesia, di Indonesia sendiri diidentifikasikan ada tigajenis utama tipe pantai yang dapat dibedakan berdasarkan substrat atau sedimen, sebagai berikut:
Pantai berpasir; terdapat di sepanjang garis pantai yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia dan bentangan pantai Sulawesi dan Maluku di Laut Banda, dominan dengan kondisi daerah pantai (foreshore) lebih terjal dan lebih dalam. Banyak terdapat pinggiran pantai berkarang.
1.      Pantai berpasir merupakan pantai yang didominasi oleh hamparan atau dataran pasir, baik yang berupa pasir hitam, abu-abu atau putih. Selain itu terdapat lembah-lembah diantara beting pasir. Jenis tanah dipantai adalah typic tropopsamment dan typic tropofluvent. Pantai berpasir tidak menyediakan substrat tetap untuk melekat bagi organisme, karena aksi gelombang secara terus menerus menggerakan partikel substrat (Sugiarto dan Ekariyono, 1996 dalam Armos, 2013).
2.      Pantai berlumpur; terdapat di sepanjang garis pantai yang berbatasan dengan lautan dangkal pada beting Sunda dan beting Sahul, terlindung dari serangan gelombang besar dan karenanya didominasi oleh pasut dan sungai, kondisi pantai (foreshore) sangat landai dan datar dan terdapat delta-delta di beberapa kawasan pantai.
3.      Pantai berkarang; di kawasan pantai ini terdapat semenanjung dan dinding tebing pantai yang terselingi antara pantai berlumpur dan berpasir.
2.2    Gelombang
Gelombang di laut dapat dibedakan menjadi beberapa macam yang tergantung pada gaya pembangkitnya. Gelombang tersebut adalah gelombang angin (gelombang yang dibangkitkan oleh tiupan angin), gelombang pasang surut adalah gelombang yang dibangkitkan oleh gaya tarik benda-benda langit terutama gaya tarik matahari dan bulan terhadap bumi), gelombang tsunami (gelombang yang terjadi akibat letusan gunung berapi atau gempa didasar laut), gelombang kecil (misalkan gelombang yang dibangkitkan oleh kapal yang bergerak), dan sebagainya (Triatmodjo, 1999 dalam Nadia, et al 2013).
Gelombang terjadi akibat adanya gaya-gaya alam yang bekerja di laut seperti tekanan atau tegangan dari atmosfir (khususnya melalui angin), gempa bumi, gaya gravitasi bumi dan benda-benda angkasa (bulan dan matahari), gaya coriolis (akibat rotasi bumi), dan tegangan permukaan (Triatmadja, 2004 dalam Darmiati, 2013).
Pada umumnya gelombang terjadi karena hembusan angin di permukaan air laut. Daerah di mana gelombang itu dibentuk disebut daerah pembangkitan gelombang (wave generating area). Gelombang yang terjadi di daerah pembangkitan disebut sea, sedangkan gelombang yang terbentuk di luar daerah pembangkitan disebut swell. Ketika gelombang menjalar, partikel air di permukaan bergerak dalam suatu lingkaran besar membentuk puncak gelombang pada puncak lingkarannya dan lembah pada lintasan terendah. Di bawah permukaan, air bergerak dalam lingkaran-lingkaran yang makin kecil. Saat gelombang mendekati pantai, bagian bawah gelombang akan mulai bergesekan dengan dasar laut yang menyebabkan pecahnya gelombang dan terjadi putaran pada dasar laut yang dapat membawa material dari dasar pantai serta menyebabkan perubahan profil pantai (Triatmodjo, 1999 dalam Darmiati, 2013).
2.3    Arus
Arus merupakan gerakan mengalir suatu massa air yang dapat disebabkan oleh tiupan angin, atau karena perbedaan dalam densitas air laut atau pula disebabkan oleh gerakan bergelombang panjang. Arus yang disebabkan oleh pasang surut biasanya lebih banyak diamati di perairan pantai terutama pada selat-selat yang sempit dengan kisaran pasang surut yang tinggi. Di laut yang terbuka, arah dan kekuatan arus di lapisan permukaan sangat banyak ditentukan oleh angin (Nontji, 1987 dalam Nadia, et al, 2013).
Menurut (Bernawis, 2000 dalam Nadia et al, 2013), faktor pembangkit arus permukaan disebabkan oleh adanya angin yang bertiup di atasnya. Tenaga angin memberikan pengaruh terhadap arus permukaan (atas) sekitar 2% dari kecepatan angin itu sendiri. Kecepatan arus ini akan berkurang sesuai dengan makin bertambahnya kedalaman perairan sampai pada akhirnya angin tidak berpengaruh pada kedalaman 200. Ketika angin berhembus di laut, energi yang ditransfer dari angin ke batas permukaan, sebagian energi ini digunakan dalam pembentukan gelombang gravitasi permukaan, yang memberikan pergerakan air dari yang kecil ke arah perambatan gelombang sehingga terbentuklah arus di laut. Semakin cepat kecepatan angin, semakin besar gaya gesekan yang bekerja pada permukaan laut, dan semakin besar arus permukaan. Dalam proses gesekan antara angin denganbpermukaan laut dapat menghasilkan gerakan air yaitu pergerakan air laminar dan pergerakan air turbulen (Supangat, 2003 dalam Nadia, et al 2013).
2.4    Suhu
Suhu erat kaitannya dengan cahaya. Pemanasan yang terjadi di permukaan laut yang terjadi pada siang hari tidak seluruhnya dapat diabsorbsi oleh air laut karena adanya awan dan posisi lintang. Energy akan cukup banyak diserap ketika matahari berada di atas ketinggian di langit dan berkurang ketika dekat dengan horizon. Posisi matahari di daerah tropic dan subtropik yang selalu berada di atas horizon sepanjang musim menjadikan daerah ini lebih hangat dibandingkan umumnya di daerah kutub (Widodo dan Suadi, 2006 dalam Armita, 2011).
Dahuri, dkk (2001), dalam (Armita, 2011) menyatakan bahwa di perairan nusantara kita suhu air laut umumnya berkisar antara 28-38 oC. Suhu permukaan laut (SPL), Indonesia secara umum berkisar antara 26-19 oC karena perairan Indonesia dipengaruhi oleh angin musim, maka sebarab SPL-nya pun mengikuti perubahan musim. Suhu di laut adalah factor yang amat penting bagi kehidupan orgaisme (Nybakken, 2000 dalam Armita, 2011). Selanjutnya ditambahkan (Romimohtarto, 2001 dalam Armita D, 2011) bahwa suhu merupakan factor fisik yang sangat penting di laut, perubahan suhu dapat member pengaruh besar kepada sifat-sifat air laut lainnya dan kepada biota laut.
Suhu mempengaruhi daya larut gas-gas yang diperlukan untuk fotosintesis seperti CO2 dan O2, gas-gas ini mudah terlarut pada suhu rendah dari pada suhu tinggi akibatnya kecepatan fotosintesis ditingkatkan oleh suhu rendah. Panas yang diterima permukaan laut dari sinar matahari menyebabkan suhu di permukaan perairan bervariasi berdasarkan waktu. Perubahan suhu ini dapat terjadi secara harian, musiman, tahunan atau dalam jangka waktu panjang (Romimohtarto, 2001 dalam Armita, 2011).
2.5    Pasang Surut
Fenomena pasang surut diartikan sebagai naik turunnya muka laut secara berkala akibat adanya gaya tarik benda-benda angkasa terutama matahari dan bulan terhadap massa air di bumi. Sedangkan menurut (Dronkers 1964 dalam Nadia et al 2013), pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-benda astronomi terutama oleh matahari, bumi dan bulan. Pengaruh benda angkasa lainnya dapat diabaikan karena jaraknya lebih jauh atau ukurannya lebih kecil (Pariwono, 1989 dalam Nadia et al, 2013).
Pasang surut adalah proses naik turunnya paras laut (sea level) secara berkala yang ditimbulkan oleh adanya gaya tarik dari benda-benda angkasa, terutama matahari dan bulan, terhadap massa air laut di bumi. Meskipun massa bulan jauh lebih kecil dari massa matahari, tetapi karena jaraknya jauh lebih dekat, maka pengaruh gaya tarik bulan terhadap bumi lebih besar daripada pengaruh gaya tarik matahari. Gaya tarik bulan yang mempengaruhi pasang surut adalah 2,2 kali lebih besar daripada gaya tarik matahari. Fenomena ini memberikan kekhasan karakteristik pada kawasan pesisir dan lautan, sehingga menyebabkan kondisi fisik perairan yang berbeda-beda (Ali et al., 1994 dalam Darmiati, 2013).
Pasang surut adalah fluktuasi muka air laut karena adanya gaya tarik benda-benda di langit, terutama matahari dan bulan terhadap masa air laut di bumi (Triatmodjo, 1999 dalam Darmiati, 2013).
Secara umum pasang surut di berbagai daerah perairan Indonesia dapat dibedakan dalam empat tipe yakni (Triatmodjo 1999 dalam Darmiati, 2013) :
1.      Pasang surut harian ganda (semi diurnal tide)
Dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut dengan tinggi yang hampir sama dan pasang surut terjadi secara berurutan secara teratur. Periode pasang surut rata-rata adalah 12 jam 24 menit. Pasut jenis ini terdapat di Selat Malaka sampai Laut Andaman.
2.      Pasang surut harian tunggal (diurnal tide)
Dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air surut. Periode pasang surut adalah 24 jam 50 menit. Pasut jenis ini terdapat di perairan selat Karimata.
3.      Pasang surut campuran condong ke harian ganda (mixed tide prevailing semi diurnal)
Dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut, tetapi tinggi dan periodenya berbeda. Pasut jenis ini terdapat di perairan Indonesia bagian Timur.
4.      Pasang surut campuran condong ke harian tunggal (mixed tide prevailing diurnal)
Pada tipe ini dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air surut, tetapi kadang-kadang untuk sementara waktu terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi dan periode yang sangat berbeda. Pasut jenis ini terdapat di perairan utara Dangkalan Sunda.
2.6    Angin
Angin merupakan salah satu unsur iklim yang mempunyai peranan penting dalam interaksi antara laut dan atmsofer sehingga mendapat perhatian tidak hanya dalam penelitian meteorologi saja tetapi juga dalam penelitian kelautan. Bagi dinamika perairan laut terutama di lapisan permukaan angin merupakan sumber energi utama. Transfer energi dari angin permukaan ke laut akan menyebabkan terjadinya gelombang laut dan arus permukaan laut. Selain sebagai pembangkit gelombang laut dan arus permukaan laut, angin dapat menyebabkan terjadinya proses upwelling. Upwelling adalah proses naiknya massa air dari lapisan bawah ke lapisan permukaan (Martono, 2009).
Pada prinsipnya angin atau aliran udara bergerak dari tempat yang bertekanan tinggi ke tempat yang bertekanan rendah. Angin adalah pergerakan udara pada arah horisontal atau hampir horisontal, sedangkan aliran udara adalah pergerakan udara arah vertikal. Angin diberi nama berdasarkan dari mana arah angin itu bertiup. Udara yang bergerak dekat permukaan bumi yang tidak tetap kecepatan dan arahnya dinamai turbulensi. Terjadinya turbulensi disebabkan oleh gesekan udara dengan permukaan. Gesekan ini sangat dipengaruhi oleh kekasaran permukaan, lebih kasar permukaan bumi lebih besar pula turbulensi. Turbulensi kecil terjadi pada permukaan laut oleh karena kecilnya gesekan (Ashuri, 2009)
2.7    Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman atau kadar ion H dalam air merupakan salah satu faktor kimia yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan organisme yang hidup di suatu lingkungan perairan. Tinggi atau rendahnya nilai pH air tergantung dalam beberapa faktor yaitu : kondisi gas-gas dalam air seperti CO2, konsentrasi garam-garam karbonat dan bikarbonat, proses dekomposisi bahan organic di dasar perairan (Sutika, 1989 dalam Armita, 2011).
Derajat keasaman merupakan faktor lingkungan kimia air yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan rumput laut. Menurut pendapat (Soesono, 1988 dalam Armita, 2011) bahwa pengaruh bagi organisme sangat besar dan penting, kisaran pH yang kurang dari 6,5 akan menekan laju pertumbuhan bahkan tingkat keasamannya dapat mematikan dan tidak ada laju reproduksi sedangkan pH 6,5 –9 merupakan kisaran optimal dalam suatu perairan.












BAB III
METODELOGI PRAKTIKUM
3.1    Waktu dan Tempat
Praktikum oseanografi dilaksanakan pada hari senin tanggal 01 juni 2015, pukul 18.00 WITA sampai dengan hari selasa tanggal 2 juni 2015. Bertempat di Dusun Tamendao, Desa Olimoo’o Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo.
3.2    Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum oseanografi dapat dilihat pada tabel 1 dan 2:
Tabel 1. Alat yang digunakan pada praktikum sebagai berikut:
No
Alat
Fungsi
1
Tongkat Skala
Mengukur tinggi gelombang dan pasang surut
2
Kertas Lakmus
Mengukur pH air laut
3
Thermometer
Mengukur suhu air
4
Stopwach/Handphone
Menghitung waktu dalam pengukuran arus
           
Tabel 2. Bahan yang digunakan pada praktikum sebagai berikut:
No
Bahan
Fungsi
1
Air Laut
Sebagai objek penelitian dan pengukuran parameter kualitas air
2
Botol bekas air mineral (600 ml)
Untuk mengukur arus laut
3
Tali raffia (1 m)
Sebagai penghubung antara patok/tongkat skala dengan botol bekas air mineral
4
Alat tulis menulis
Untuk mencatat data/hasil yang diperoleh







3.3    Prosedur Kerja
Prosedur kerja pada praktikum oseanografi sebagai berikut:
3.3.1   Parameter Fisika
a.    Pengukuran Suhu
1.      Mencelupkan Thermometer diperairan tepat dimana tongkat skala ditancapkan, kemudian biarkan selama beberapa menit.
2.      Mengamati skala yang ditunjukan oleh alat ini. Penunjukkan skala menunjukkan suhu air laut pada saat itu.
3.      Mencatat hasil yang diperoleh
4.      Membersihkan thermometer dengan menggunakan aquades
b.   Gelombang
1.      Menancapkan tongkat skala dalam air
2.      Mengukur selisih antara puncak dengan lembah gelombang (sebagai tinggi gelombang)
3.      Mencatat hasil pengamatan
4.    Pengukuran Kecepatan Arus
1.      Menghubungkan tongkat skala dengan botol air mineral yang diisi sedikit air dengan menggunakan tali raffia
2.      Meletakkan botol air mineral tepat berdekatan dengan tongkat skala bersamaan dengan dimulainya stopwach
3.      Setelah dilepas botolnya tunggu hingga tali merenggang bersamaan dengan dihentikannya stopwach
4.      Mencatat hasil yang diperoleh

5.    Pasang Surut
1.      Mengamati ukuran tinggi rendahnya air laut dengan melihat tongkat skala
3.3.2   Parameter Kimia
a.    Pengukuran pH Air Laut
1.      Mencelupkan pH meter atau kertas lakmus kedalam perairan selama beberapa menit
2.      Tunggu hingga pH meter menunjukkan angka stabil atau kertas lakmus berubah warna.
3.      Mencocokkan warna kertas lakmus yang telah dicelupkan tadi dengan s warna yang terdapat pada sampul kertas lakmus
4.      Kemudian mencatat hasilnya


                                            







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1         Hasil
Dari hasil pengamatan dan pengukuran parameter oseanografi di perairan  Desa Olimoo’o di dapat dilihat pada tabel 3:
Tabel 3. Hasil pengamatan parameter oseanogafi       


4.2         Pembahasan
4.2.1        Tinggi Gelombang

Dari hasil pengamatan pengukuran tinggi gelombang diperoleh gelombang tertinggi 165 cm yang terjadi pada pukul 04.00 Wita, dan gelombang terendah 26 cm terjadi pada pukul 21.00 Wita.

Gambar pengamatan gelombang tertinggi dan terendah
4.2.2        Kecepatan Arus

Berdasarkan data yang diperoleh pada praktikum oseanografi bahwa hasil tercepat pengukuran kecepatan arus sampai tali merenggang yaitu 05,11 detik. Arus laut di pengaruhi oleh timbulnya arus dan suhu permukaan laut yang berubah-ubah, arus air laut juga dapat terjadi karena adanya perbedaan suhu, tinggi permukaan laut, dan pasang surut (Wibisono, 2005).
4.2.3        Suhu
Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum oseanografi pengukuran suhu tiap 1 jam sekali diperoleh hasil bahwa suhu air laut saat pengukuran pertama pada pukul 16.00 WITA adalah 270 C, suhu tertinggi saat pengukuran yaitu pada pukul 12.00 WITA yaitu sekitar 330 C dan suhu terendah pada pukul 19.00 WITA yaitu sekitar 260 C, hal ini menunjukkan kisaran suhu perairan di Desa Olimoo’o  tersebut normal.
 Di perairan tropis perbedaan/variasi suhu air laut sepanjang tahun tidak besar. Suhu di lautan kemungkinan berkisar antara -1.87°C (titik beku air laut) di daerah kutub sampai maksimum sekitar 42°C di daerah perairan dangkal (Hutabarat dan Evans, 1986). Suhu permukaan laut Nusantara berkisar antara 27° dan 32°C. Kisaran suhu ini adalah normal untuk kehidupan biota laut di perairan Indonesia.
4.2.4        Pasang Surut
Dari hasil pengamatan selama di lokasi praktikum terjadi dua kali pasang dan dua kali surut. Data pengamatan pengukuran pasang surut diperoleh pasang tertinggi 145 cm terjadi pada pukul 04.00 Wita, dan surut terendah 24 cm pada pukul 21.00 Wita.

Gambar Hasil pengamatan pasang surut air laut

Secara umum pasang surut di berbagai daerah perairan Indonesia dapat dibedakan dalam empat tipe yakni (Triatmodjo 1999 dalam Darmiati, 2013), Pasang surut harian ganda (semi diurnal tide) yaitu dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut dengan tinggi yang hampir sama dan pasang surut terjadi secara berurutan secara teratur. Periode pasang surut rata-rata adalah 12 jam 24 menit, Pasang surut harian tunggal (diurnal tide) yaitu dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air surut. Periode pasang surut adalah 24 jam 50 menit, pasang surut campuran condong ke harian ganda (mixed tide prevailing semi diurnal). dalam satu hari terjadi dua kali air pasang dan dua kali air surut, tetapi tinggi dan periodenya berbeda, pasang surut campuran condong ke harian tunggal (mixed tide prevailing diurnal), pada tipe ini dalam satu hari terjadi satu kali air pasang dan satu kali air surut, tetapi kadang-kadang untuk sementara waktu terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dengan tinggi dan periode yang sangat berbeda.
4.2.5        Derajat Keasaman (pH)
Dari hasil praktikum oseanografi tentang pengukuran pH diperoleh bahwa perairan laut di Desa Olimoo’o berkisar antara 6-7, ini berarti peariran dilokasi tersebut normal.
Berdasarkan hasil yang diperoleh selama di lokasi praktikum didapatkan data hasil pengukuran sebagai berikut:

Gambar pengukuran kisaran pH

Nilai pH dari hasil pengamatan ini masih sesuai denga pH yang umum yang dijumpai diperairan laut. Menurut Salim (1986) pH diperairan laut yang normal berkisar antara 8,0-8,5 dan antara 7,0-8,5 . (Odum, 1971) untuk perairan Indonesia pH laut permukaan berkisar antara 6,0-8,5.
4.2.6        Arah Mata angin
Untuk memanfaatkan arah angin perlu di ketahui kecepatan dan arah angin melalui suatu pengukuran. Dari kebanyakan data yang di amati arah mata angin  yaitu Barat dan Barat Laut.
4.2.7        Tipe Pantai dan Substrat
Dari data hasil praktikum oseanografi tentang tipe pantai dan substrat diperoleh bahwa tipe pantai dan substrat di sekitar perairan laut di Desa Olimoo’o yaitu  tipe pantai Gravely beach (pantai berbatu).






BAB V
PENUTUP
5.1         Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran oseanografi di perairan Teluk Tomini Desa Olimoo’o Kecamatan Batudaa Pantai dapat disimpulkan bahwa tipe pantai di lokasi praktikum yaitu pantai berbatu (Grafely beach), pasang surut terjadi 2 kali pasang 2 kali surut, pH berkisar antara 6-7 yang berarti pH di perairan tersebut masih normal dan baik untuk pertumbuhan biota laut, dan pada pengukuran tinggi gelombang di dapatkan hasil bahwa gelombang  terendah terjadi pada pukul 21.00 dengan ketinggian gelombang 26 cm, dan gelombang tertinggi terjadi pada pukul 04.00 dengan ketinggian gelombang 165 cm.
5.2         Saran
Dalam pelaksanaan praktikum ini sebaiknya dilakukan dengan benar-benar serius dalam hal pengukuran dan pengamatan parameter oseanografi agar mendapatkan data yang akurat.












DAFTAR PUSTAKA
Armos, N. H. 2013. Studi kesesuaian lahan pantai wisata Boe Desa Mappakalompo Kecamatan Galesong ditinjau berdasarkan Biogeofisik.Skripsi. Jurusan Ilmu Kelautan. Fakultas Ilmu kelautan dan Perikanan. Universitas Hasaniddin. Makassar
Armita, D. 2011. Analisis perbandingan kualitas air di daerah budidaya rumput laut dengan Daerah tidak ada budidaya rumput laut, di dusun Malelaya, desa Punaga, kecamatan Mangerabombang, Kabupaten Takelar. Skripsi
jurusan perikanan. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Hasanuddin. Makassar
Ashuri. 2009. Telemetri arah mata angin dan kecepatan angin berbasis SMS. Skripsi. jurusan Fisika.Fakultas Sains dan Tekhnologi. Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Malang
Darmiati. 2013. Hidrodinamika perairan pantai Bau-Bau dan transformasi gelombang diatas terumbu karang alami. Skripsi. Jurusan Ilmu Kelautan. FakultasIlmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Hasanuddin. Makassar
Martono. 2009. Karakteristik dan variabilitas bulanan angin permukaan di perairan semudra Hindia. jurnal. Vol 13. No 2. Bidang pemodelan iklim. Lembaga penerbangan dan Antartika Nasional. Bandung. Indonesia
Nadia, P. M. Ali., Bespera. 2013. Pengaruh angin terhadap tinggi gelombang pada struktur bangunan Breakwater di Tapak Paderi Kota Bengkulu. Jurnal. Vol 5. No 1. program studi tehnik sipil. Fakultas Tekhnik UNIB. Bengkulu










1 komentar: