Music

Kamis, 09 April 2015

Laporan PKL

KELIMPAHAN FITOPLANKTON DI DANAU DORA KAWASAN CIBINONG SCIENCE CENTER AND BOTANICAL GARDEN (CSCBG) PUSLIT LIMNOLOGI  LIPI CIBINONG JAWA BARAT




OLEH
 SANDRIANTO DJUNAIDI













KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyusun laporan ini yang berjudul  Kelimpahan Fitoplankton Di Danau Dora Kawasan Cibinong Science Center And Botanical Garden (CSCBG) Puslit Limnologi LIPI Cibinong, Jawa Barat”.
Praktikum ini dilaksanakan pada Bulan Juli 2013 di Danau Dora Kawasan Cibinong Science Center And Botanical Garden (CSCBG) LIPI Cibinong, Jawa Barat. Tujuan praktikum ini adalah untuk Mengetahui kelimpahan fitoplankton yang ditemukan di Danau Dora dan perbedaan fitoplankton yang ditemukan pada jam yang berbeda.
Penulis menyadari bahwa laporan PKL ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dalam hal penulisan maupun isi. Berkat kemampuan yang ada serta bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, utamanya dari dosen pembimbing I Bapak Dr. Abdul Hafidz Olii, S.Pi, M.Si dan pembimbing II Ibu Sri Nuryatin Hamzah, S.Kel, M.Si yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan laporan PKL ini.
Akhirnya atas segala kesalahan dan kehilafan kepada semua pihak baik yang disengaja maupun yang tidak, penulis memohonkan hati untuk dimaafkan. Semoga ilmu, bantuan, bimbingan dan petunjuk yang telah diberikan oleh semua pihak, insya Allah akan memperoleh imbalan yang setimpal dari Allah SWT dan senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada semua dalam menjalankan segala aktivitas dalam kesehariannya.

Gorontalo, Oktober 2013

Penulis








DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI...................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR........................................................................................ v
DAFTAR TABEL............................................................................................. vi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang......................................................................................... 1
1.2 Tujuan...................................................................................................... 2
1.3 Manfaat.................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN UMUM
2.1 Sejarah umum LIPI.................................................................................. 3
2.2 Sejarah umum limnologi.......................................................................... 4
2.3 Tugas dan fungsi limnologi...................................................................... 5
2.4 Visi dan misi limnologi............................................................................ 6
BAB III TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Definisi fitoplankton................................................................................ 7
3.2 Fungsi fitoplankton di perairan................................................................ 9
3.3 Faktor fisika kimia perairan yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan.. 10
3.4 Fitoplankton sebagai indikator kualitas perairan..................................... 12
BAB IV METODE PRAKTEK
4.1 Tempat dan waktu................................................................................... 14
4.2 Alat dan bahan......................................................................................... 14
4.3 Prosedur kerja.......................................................................................... 15
4.4 Analisis data............................................................................................ 15
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Deskripsi lokasi pengamatan fitoplankton............................................... 17
5.2 Komposisi fitoplankton........................................................................... 18
5.3 Kondisi kualitas air.................................................................................. 20
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan.............................................................................................. 22
6.2 Saran........................................................................................................ 22
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN







DAFTAR GAMBAR

No. Gambar                                        Teks                                                         Hal

Gambar 1. Lokasi Danau Dora............................................................................ 17
Gambar 2. Grafik kelimpahan fitoplankton......................................................... 19




DAFTAR TABEL

No. Tabel                                            Teks                                                         Hal

Tabel 1. Alat yang digunakan saat pengamatan.................................................. 14
Tabel 2. Bahan yang digunakan saat pengamatan............................................... 14
Tabel 3. Komposisi dan kelimpahan fitoplankton Danau Dora........................... 18
Tabel 4. Pengukuran kualitas air Danau Dora...................................................... 20





BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang
Fitoplankton dapat berperan sebagai salah satu dari parameter ekologi yang dapat menggambarkan kondisi suatu perairan. Salah satu ciri khas organisme fitoplankton yaitu merupakan dasar dari mata rantai pakan di perairan (Dawes, 1981). Oleh karena itu, kehadirannya di suatu perairan dapat menggambarkan karakteristik suatu perairan apakah berada dalam keadaan subur atau tidak. Fitoplankton adalah mikroorganisme nabati yang hidup melayang di dalam air, relatif tidak mempunyai daya gerak sehingga keberadaannya di pengaruhi oleh gerakan air, serta mampu berfotosintesis.
Kelimpahan fitoplankton di suatu perairan dipengaruhi oleh beberapa parameter lingkungan dan karakteristik fisiologisnya. Komposisi dan kelimpahan fitoplankton akan berubah pada berbagai tingkatan sebagai respons terhadap perubahan-perubahan kondisi lingkungan baik fisik, kimia, maupun biologi (Reynolds et al. 1984).
Danau Dora adalah danau buatan yang terletak di Cibinong Jawa Barat, tepatnya di kawasan Cibinong Science Center and  Botanical Garden (CSCBG) LIPI Cibinong. Danau ini relatif baru dan belum diamati kelimpahan fitoplankton, kondisi fisika, kimia dan biologinya, sehingga danau ini menarik untuk dilakukan pengamatan.
 Salah satu parameter yang diamati untuk mengetahui kondisi limnologi perairan adalah dengan mengamati kelimpahan fitoplankton. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan praktek kerja lapangan ini yakni dengan melakukan pengamatan tentang kelimpahan fitoplankton di Danau Dora kawasan Cibinong Science Center and Botanical Garden (CSCBG) di Pusat Penelitian Limnologi LIPI Cibinong, Jawa Barat.

1.2 Tujuan
            Tujuan dari praktek kerja lapangan ini adalah :
a)      Mengetahui kelimpahan fitoplankton yang ditemukan di Danau Dora
b)      Mengetahui perbedaan fitoplankton yang ditemukan pada jam yang berbeda

1.3 Manfaat
Manfaat dari praktek kerja lapangan ini adalah :
a)      Menjadi dasar untuk riset selanjutnya tentang keberadaan fitoplankton di Danau Dora
b)      Memberikan informasi tentang kelimpahan fitoplankton di danau Dora.

BAB II
TINJAUAN UMUM INSTANSI

2.1 Sejarah umum LIPI
Kegiatan ilmiah di Indonesia dimulai pada abad ke-16 oleh Jacob Bontius, yang mempelajari flora Indonesia dan Rompius dengan karyanya yang terkenal berjudul Herbarium Amboinase. Pada akhir abad ke-18 dibentuk Bataviaasch Genotschaps van Wetenschppen pada tahun 1817, C.G.L. Reinwart yang mendirikan kebun raya Indonesia (Svland Plantentuin) di Bogor. Pada tahun 1928 pemerintah Hindia Belanda membentuk Natuurwetenschappelijk Raad Voor Netherlandsch Indie. Kemudian tahun 1948 diubah menjadi Organisatie Voor Natuurwatenschappelijk onderzoek (Organisasi untuk penyelidikan Dallam Ilmu Pengetahuan Alam, yang dikenal  dengan OPIPA). Badan ini menjalankan tugasnya hingga tahun 1956.
Pada tahun 1956, melalui UU No. 06 Tahun 1956 pemerintah Indonesia membentuk Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) dengan tugas pokok :
1.    Membimbing perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
2.    Memberi pertimbangan kepada pemerintah dalam hal kebijaksanaan ilmu pengetahuan.
Kemudian pada tahun 1962 pemerintah membentuk Departemen Umum Urusan Riset Nasional (DURENAS) dan menempatkan MIPI didalamnya dengan tugas tambahan : membangun dan mengasuh beberapa lambaga riset Nasional. Pada tahun 1966 pemerintah merubah status DURENAS menjadi Lembaga Riset Nasional (LEMRENAS).
Pada bulan Agustus 1967 pemerintah membubarkan LEMRENAS dan MIPI sesuai dengan SK Presiden RI No. 128 tahun 1976, kemudian berdasarkan keputusan MPRS No. 18/B/1976 pemerintah membentuk Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan menanmpung seluruh tugas LEMRENAS dan MIPI, dengan tugas pokok sebagai berikut :
1.        Membimbing perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berakar di Indonesia agar dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan rakyat Indonesia pada khususnya dan umat manusia pada umumnya.
2.        Member kebenaran ilmiah, dimana kebebasan ilmiah, kebebasan penelitian serta kebebasan mimbar diakui dan dijamin, sepanjang tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.
3.        Mempersiapkan pembentukan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (sejak 1991  tugas pokok ini selanjutnya ditangani oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi dengan Keppres no. 179 tahun 1991)

2.2 Sejarah umum limnologi
Kegiatan penelitian limnologi di Indonesia sebenarnya telah mulai dilakukan secara terbatas sejak abad lalu. Namun belum terdapat lembaga yang ditugasi khusus menangani masalah-masalah limnologi di Indonesia. Beberapa lembaga dalam batas-batas tertentu telah melakukan pengkajian limnologi secara terbatas sesuai dengan fungsi yang diemban oleh lembaga masing-masing. Pemikiran yang menilai perlunya didirikan lembaga khusus yang menangani masalah-masalah limnologi di Indonesia sebenarnya sudah lama diwacanakan. Lembaga Biologi Nasional-LIPI telah mengambil prakarsa mengadakan dua kali temu pendapat pada tahun 1984 dan 1985 antara para ahli dari berbagai instansi dan perorangan yang mempunyai minat dalam limlologi.
Pusat Penelitian Limnologi-LIPI berdiri pada tanggal 13 Januari 1986 dengan nama  Pusat Penelitian dan Pengembangan Limnoologi LIPI, berdasarkan keputusan Presiden RI nomor 1 tahun 1986 tentang organisasi LIPI, bertempat di Kebun Raya Bogor. Pada tanggal 25 Maret 1996 Pusat Penelitian dan Pengembangan Limnologi–LIPI pindah ke kompleks LIPI di Cibinong. Pada reorganisasi LIPI tahun 2001 Pusat Penelitian Limnologi-LIPI.

2.3 Tugas dan fungsi limnologi
Tugas Puslit Limnologi sesuai dengan Keputusan Kepala LIPI no. 1151/M 2001 yang memppunyai tugas pokok melaksanakan penelitian dan penyiapan kebijakan, penyusunan pedoman, pemberian bimbingan teknis, penyususnan rencana dan program. Pelaksanaan penelitian di bidang limnology serta evaluasi dan penyusunan laporan. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut, Pusat Limnologi LIPI mempunyai Fungsi :
a.       Mempersiapkan bahan perumusan kebijakan penelitian bidang Limnologi.
b.      Menyusun pedoman, pembinaan dan pemberian bimbingan teknis penelitian bidang limnologi.
c.       Menyusun rencana, program, dan melaksanakan penelitian bidang limnologi
d.      Memantau pemanaatan hasil penelitian bidang limnologi.
e.       Pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi bidang limnologi.
f.       Evaluasi dan penyususnan laporan pelaksanaan penelitian bidang limnologi.
g.      Melakukan urusan tata usaha.

2.4 Visi dan misi limnologi
Visi Puslit Limnologi LIPI adalah menjadi Referensi Nasional dan Bidang Limnologi. Sedangkan Misi Puslit Limnologi LIPI adalah mengembangkan Limnologi sebagai ilmu pengetahuan serta mendayagunakan pemanfaatannya bagi kepentingan kehidupan melalui program litbang limnologi, pembinaan jaringan dan kerjasama litbang dalam dan luar negeri, pembinaan perkembangan keilmuan serta permasyarakatan pelayanan jasa dan informasi. Struktur organisasi Pusat Penelitian Limnologi LIPI dapat dilihat pada Lampiran 1.

 
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi fitoplankton
            Fitoplankon merupakan organisme plankton nabati yang hidup diperairan, Pergerakannya dipengaruhi oleh arus dan dapat berfotosintesis. Fitoplankton mempunyai kemampuan melakukan fotosintesis karena sel tubuhnya mengandung klorofil, dimana klorofil berfungsi mengubah zat anorganik menjadi zat organik dengan bantuan sinar matahari. Zat organik yang dihasilkan dipergunakan untuk kebutuhan organisme lainnya (Davis, 1995).
Pada lingkungan perairan fitoplankton berfungsi sebagai produsen utama karena merupakan biota awal yang menyerap energi sinar matahari dan merupakan mata rantai yang sangat penting dalam rantai makanan (food chain) kehidupan aquatik, yaitu sebagai makanan bagi zooplankton dan beberapa jenis ikan serta larva biota (Odum, 1971).
Menurut Sachlan (1982), fitoplankton termasuk alga dan terbagi menjadi 7 phylum yaitu:
1. Cyanophyta (alga biru, di air tawar dan laut)
2. Chlorophyta ( alga hijau, banyak di air tawar dan sedikit di laut)
3. Chrysophyta (alga kuning, di air tawar dan air laut)
4. Phyrophyta (plankton di air tawar dan air laut)
5. Euglenophyta ( di air tawar dan di air payau)
6. Phaeophyta (alga cokelat, hanya hidup sebagai rumput laut)
7. Rhodhophyta (alga merah, hanya hidup sebagai rumput laut)
Fitoplankton ukurannya sangat kecil dan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, ukurannya berkisar antara 2-200 µm (1 µm = 0,001 µm). Fitoplankton dapat melakukan gerak sendiri dengan flagella atau sillia, serta aktif dalam mengatur berat jenis (BJ) agar sama dengan berat jenis substrat atau medianya. Pengaturan berat jenis dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu dengan menambah atau mengurangi vakuola, zat lemak, atau minyak yang merupakan cadangan makanan (Sachlan, 1982).
Fitoplankton bereproduksi melalui dua cara yaitu seksual dan aseksual. Dimana reproduksi secara aseksual terjadi melalui pembelahan sel, fragmentasi dan pembentukan zoospora. Sedangkan reproduksi secara seksual terjadi melalui isogami dan oogami (Yeanni, M.S.  2005).
a. Reproduksi seksual
Reproduksi seksual melibatkan peleburan dua gamet untuk membentuk zigot dan tumbuhan menjadi  individu baru. Terdapat dua tipe isogami dan oogami. Pada tipe isogami, gamet jantan dan gamet betina berukuran sama besar dan pada umumnya dapat bergerak. Jika zigot hasil peleburan gamet betina dan gamet jantan mengalami dormansi, maka disebut dengan zigospora. Contoh fitoplankton yang melakukan reproduksi secara isogami yaitu Cholococcum, Chlamydomonas, dan Hydrodictyon (Odum, 1971).
Sedangkan pada tipe Oogami, ukuran gamet jantan berbeda dengan ukuran gamet betina. Gamet betina atau telur berukuran besar dan tidak bergerak. Jika zigot yang terbentuk tidak berkecambah tetapi mengalami dormansi, maka disebut dengan Oospora, contohnya fitoplankton yang bereproduksi dengan cara isogami yaitu Spirogyra dan Aedogonium (Odum, 1971).
b. Reproduksi Aseksual
Reproduksi aseksual terjadi melalui pembentukan sel menghasilkan dua sel anak yang masing-masing akan menjadi individu baru. Reproduksi dengan cara pembelahan sel umumnya terjadi pada alga bersel tunggal, seperti Chroococcus, Chlorella dan Oscillatoria. Alga berbentuk koloni tanpa filamen, umumnya bereproduksi melalui fragmentasi seperti Volvox dan Spyrogyra. Fragmentasi yaitu terpecahnya koloni menjadi beberapa bagian, selain melalui pembelahan sel dan fragmentasi, fitoplankton juga dapat bereproduksi melalui pembentukan zoospora. Zoospora merupakan sel tunggal yang diselubungi oleh selaput dan dapat bergerak atau berenang bebas dengan menggunakan satu atau lebih flagela, contohnya yaitu Chloroococcum dan Chlamidomonas (Yeanni, M.S.  2005).

3.2 Fungsi Fitoplankton di Perairan
Fitoplankton merupakan produsen utama karena merupakan biota awal yang menyerap energi sinar matahari (Odum, 1971). Fitoplankton atau mikroalgae mempunyai peran mensintesa bahan organik dalam lingkungan perairan. Mikroalgae melakukan aktifitas fotosintesa untuk membentuk molekul-molekul karbon komplek melalui larutan nutrien dari beberapa sumber yang dikonsumsi dengan bantuan cahaya matahari atau energi lampu untuk membentuk sel-sel baru menjadi produk biomassa (Odum, 1971).
Fungsi fitoplankton diperairan sebagai makanan bagi zooplankton dan beberapa jenis ikan serta larva yang masih muda, mengubah zat anorganik menjadi organik dan mengoksigenasi air, nutrien anorganik diabsorbsi menjadi nutrient organic melalui proses fotosintesis. Nutrien organik merupakan energi yang siap dimanfaatkan bagi pertumbuhan dan perkembangan dirinya sendiri maupun sebagai persediaan makanan bagi biota lain yang berada pada jenjang yang lebih atas (Davis, 1995).
Pertumbuhan fitoplankton yang tinggi tidak hanya selalu menguntungkan bagi kondisi perairan, tetapi juga dapat menyebabkan menurunnya kualitas perairan karena ledakan populasi fitoplankton (blooming) (Nontji, 2006).

3.3 Faktor fisika kimia perairan yang mempengaruhi tingkat pertumbuhan
a. Cahaya
Cahaya bersumber dari sinar matahari sangat penting untuk kehidupan makhluk hidup karena hampir semua energi yang menggerakan dan mengontrol metabolisme diperairan berasal dari energi matahari yang dikonversikan secara biokimia melalui proses fotosintesis menjadi energi kimia potensial. Dalam proses fotosintesis menggunakan bahan organik yang berasal dari perairan dalam berbagai bentuk terlarut dan partikel organik (Nontji, 2006).
Proses fotosintesis yang terjadi pada fitoplankton sangat bergantung pada cahaya, laju fotosintesis dan intensitas cahaya. Laju dan intensitas cahaya yang sangat tinggi dapat menghambat fotosintesis fitoplankton (Nybakken, 1988). Pemanfaataan konsentrasi nitrat dan pospat yang tinggi tidak optimal pada kondisi intensitas cahaya tinggi, sementara pada konsentrasi nutrien yang rendah dan intensitas cahaya redup semua nutrien dapat dimanfaatkan. Sebaliknya laju respirasi bisa dikatakan konstan dalam semua kedalaman. Intensitas cahaya diperairan akan berkurang dengan bertambahnya kedalaman, dimana kehilangan cahaya ditandai dengan koefisien peredupan cahaya (Nybakken, 1988).
b. Suhu
Suhu berperan penting dalam proses metabolisme organisme flora dan fauna, kisaran suhu yang baik untuk fitoplankton yaitu 20-30 0C. Setiap spesies fitoplankton memiliki suhu optimal untuk pertumbuhannya, seperti keompok diatom tumbuh dengan baik pada kisaran suhu 20-30 0C (Effendi, 2000).
Suhu dapat mempengaruhi fotosintesis diperairan baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Pengaruh langsung karena reaksi kimia enzimatik yang berperan dalam proses fotosintesis dikendalikan oleh suhu. Pengaruh tidak langsung, karena suhu akan menentukan struktur hidrolisis suatu perairan dimana fitoplankton itu berada (Nontji, 2006).
Suhu di perairan juga menentukan kadar oksigen yang terlarut di dalamnya. Dimana semakin tinggi suhu suatu permukaan, semakin kecil kadar oksigen terlarut di perairan tersebut (Efendi, 2000).
c. Derajat keasaman (pH)
Derajat keasaman merupakan parameter tingkat kepekatan ion hidrogen dalam suatu perairan. Keasaman air di pengaruhi oleh kandungan garam mineral seperti klorida, sulfat, nitrat, dan pospat (Efendi, 2003).
Toleransi berbagai organisme yang hidup diperairan terhadap derajat keasaman tergantung pada berbagai faktor seperti suhu, kandungan oksigen terlarut, alkalinitas, adanya beberapa anion dan kation, serta daur hidup organisme hidup (Efendi,2003). Perubahan derajat keasaman mempengaruhi jenis dan keberadaan unsur hara di perairan yang penting untuk pertumbuhan fitoplankton. Zat toksik seperti logam merkuri dan seng meningkat bila pH air cenderung asam, dimana keadaan demikian akan menurunkan produktifitas primer perairan dan menganggu proses rantai makanan (Yeanni, M.S.  2005).
d. Oksigen terlarut
Oksigen terlarut merupakan kandungan gas oksigen terlarut dalam air, semakin besar nilai oksigen terlarut didalam air, maka semakin baik kehidupan organisme didalamnya. Semakin berkurang kandungan oksigen terlarut sampai batas minimal, maka kehidupan diperairan tersebut akan punah (Yeanni, M.S.  2005).
Sumber utama oksigen terlarut dalam air berasal dari fotosintesis oleh fitoplankton, tumbuhan air dan difusi dari udara Pirzan et al. (2005). Selain itu, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi besarnya jumlah oksigen terlarut dalam perairan antara lain respirasi hewan dan tumbuhan air, proses penguraian bahan organik, suhu air yang relatif tinggi, reduksi oleh gas-gas yang membentuk gelembung-gelembung gas yang keluar dari air dan aliran air tanah kedalam tanah Pirzan et al. (2005).

3.4 Fitoplankton sebagai indikator kualitas perairan
Penggunaan fitoplankton sebagai indikator kualitas suatu perairan dapat dilihat dengan mengetahui keragaman jenisnya yang disebut juga sebagai keheterogenenan jenis. Keragaman jenis fitoplankton merupakan parameter yang digunakan dalam mengetahui suatu komunitas. Dimana parameter ini mencirikan kekayaan jenis dan keseimbangan dalam suatu komunitas, peristiwa rendahnya jenis fitoplankton menjadikan keragaman fitoplankton rendah. Ekosistem dengan keragaman rendah adalah tidak stabil dan rentan terhadap pengaruh tekanan dari luar dibandingkan dengan ekosistem yang memiliki keragaman tinggi (Boyd, 1999).
Analisis keragaman (H') fitoplankton menurut Strin (1981), apabila H'<1, maka komunitas biota dinyatakan tidak stabil, apbila H' berkisar 1-3 maka stabil komunitas biota tersebut adalah moderat (sedang) dan apabila H' > 3 berarti stabil komunitas biota berada dalam kondisi prima (stabil).
Nilai keseragaman fitoplankton menurut Pirzan et al. (2005) apabila mendekati nol (0) berarti keseragaman antar spesies di dalam komunitas tergolong rendah dan sebaliknya keseragaman yang mendekati satu dapat dikatakan keseragaman antar spesies tergolong merata atau sama. Untuk perhitungan nilai dominansi mendekati nilai satu (1) berarti di dalam komunitas terdapat spesies yang mendominansi spesies yang lainnya, sebaliknya apabila mendekati nilai nol (0) berarti di dalam struktur komunitas tidak terdapat spesies yang secara ekstrim mendominansi spesies lainnya. (Basmi, 2000).




BAB IV
METODE PRAKTEK

4.1 Tempat dan waktu
            Praktek kerja lapangan ini dilaksanakan di Danau Dora kawasan Cibinong Science Center and Botanical Garden (CSCBG), dan laboratorium identifikasi plankton di Pusat Penelitian Limnologi LIPI Cibinong, Jawa Barat. Waktu pelaksanaan yaitu mulai tanggal  11 Juli 2013 sampai 26 Juli 2013. Rincian pelaksanaan PKL dapat dilihat pada Lampiran 4.

4.2  Alat dan Bahan
            Alat dan bahan yang digunakan dalam praktek kerja lapangan untuk pengamatan kelimpahan fitoplankton, dapat dilihat pada tebel 1 dan 2.
Tabel 1. Alat yang akan digunakan pada  pengamatan kelimpahan fitoplankton adalah :
No
Alat
Kegunaan
1
Plankton net No. 25
Menyaring sampel fitoplankton
2
Pipet tetes
Mengambil sampel air (fitoplankton)
3
Kaca preparat
Untuk menutup SRC
4
Mikroskop Inverted Nikon Diaphot 300.
Mengamati fitoplankton
5
Kamera digital Canon
Dokumentasi
6
Tali
Mengukur kedalaman air
7
Alat tulis menulis
Mencatat data
8
Water quality checker (WQC) Horiba U-10
Mengukur parameter fisika dan kimia insitu.
9
Secchi Disck
Mengukur kecerahan
10
Botol sampel 15 ml
Menampung sampel air untuk pengamatan fitoplankton
11
Ember ukuran 5 liter
Pengambilan sampel air
12
Kemmerer Water Sampler
Untuk pengambilan sampel air
13
SRC (sedgewick rafter counter cell)
Sebagai wadah identifikasi fitoplankton

Tabel 2. Bahan yang akan digunakan pada  pengamatan kelimpahan fitoplankton adalah :
No
Bahan
Kegunaan
1
Aquades
Pembersihan alat penelitian
2
Buku identifikasi fitoplankton Prescott 1964 dan 1978
Panduan identifikasi fitoplankton
3
Lugol 1 %
Untuk pengawetan

4.3 Prosedur kerja
            Pengambilan sampel fitoplankton di Danau Dora dilakukan pada pukul 09.00 WIB, 12.00 WIB dan 15.00 WIB. Tahapan prosedur pengambilan sampel sampai identifikasi fitoplankton adalah sebagai berikut :
a. Pengambilan sampel air
1)      Pengambilan sampel air di Danau Dora dilakukan pada satu titik. Sampel air permukaan dan air dasar diambil menggunakan alat Kemerer Water Sampler, masing – masing sebanyak 2,5 liter dan dikomposit ke dalam ember ukuran 5 liter.
2)      Sampel air tersebut kemudian disaring menggunakan plankton net No. 25 dan dimasukkan ke dalam botol sampel ukuran 15 ml kemudian ditetesi Lugol 1 % sebanyak 5 tetes (sampai warna air berubah menjadi kekuningan) yang bertujuan untuk pengawetan fitoplankton. Setiap botol sampel diberi label kemudian ditutup rapat dan langsung dibawa ke Laboratorium Mikrobiologi Pusat Penelitian Limnologi.
3)      Pengukuran parameter kualitas air yaitu kecerahan, suhu, pH dan DO menggunakan alat Water Quality Checker (WQC) Horiba U-10. Pengukurannya dilakukan langsung di lokasi titik pengambilan sampel
b. Pengamatan dan identifikasi fitoplankton
1)      Sampel yang sudah disimpan di laboratorium selanjutnya diamati dibawah Mikroskop Inverted Nikon Diaphot 300.
2)      Sampel tersebut diambil menggunakan pipet 1 tetes (0,05 ml) diteteskan ke SRC (sedgewick rafter counter cell) lalu ditutup dengan kaca preparat sampai tidak terbentuk gelembung air.
3)      Membersihkan SRC (sedgewick rafter counter cell) dan kaca preparat dengan akuades dan tissue setiap selesai menggunakannya.
4)      Pengamatan dilakukan dengan menggunakan metoda Lackey Drop Microtransect dengan teknik sapuan dan dilakukan tiga kali pengulangan dibawa mikroskop dengan perbesaran 100 x.
5)      Spesies fitoplankton yang ditemukan, diidentifikasi dengan menggunakan buku identifikasi fitoplankton Prescott 1964 dan 1978.
6)      Menghitung kelimpahan fitoplankton dengan menggunakan metode Sachlan (1972), yaitu:
                       
Keterangan :   N   = jumlah total plankton perliter
                                    n    = jumlah total plankton satu spesies hasil pengamatan
                                    Oi  = Luas gelas penutup (mm2)
                                    Op = luas lapangan pandang (mm2
                                    Vr  = volume air yang tersaring (ml)
                                    Vo =  Volume air 1 tetes (ml)
                                    Vs`= Volume air yang disaring ( l )
                                    P   = Jumlah lapangan pandang


BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Deskripsi lokasi pengamatan fitoplankton
Pengamatan dilakukan di Danau Dora kawasan Cibinong Science Center and Botanical Garden (CSCBG) LIPI Cibinong, Jawa Barat  (Gambar 1).
Gambar 1. Lokasi Danau Dora. Sumber : http//maps.google.com

CSCBG-LIPI luasnya 189.6 ha memiliki konsep ruang terbuka hijau berdasarkan konservasi kekayaan Flora Indonesia yang terintegrasi dengan pusat-pusat penelitian didalamnya. Konsep tersebut diterjemahkan menjadi zona-zona penanaman yang salah satunya zona penanaman berdasarkan tipe-tipe ekosistem low land di Indonesia (Ecopark). Ecologi park (Ecopark) memiliki luas sekitar 21 ha dengan danau buatan yang menampung debit air 80 m³ yang berasal dari 23 titik mata air.
5.2 Komposisi fitoplankton
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, komposisi dan kelimpahan fitoplankton di Danau Dora dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 3. Komposisi dan Kelimpahan Fitoplankton Di Danau Dora Berdasarkan Hasil Pengamatan.
Jenis
Waktu
09.00
12.00
15.00
Bacillariophyceae



Melosira
420
440
300
Cyanophyceae



Chroococcus*
480
40
580
Microcystis*
0
60
0
Microspora
0
80
0
Chlorophyceae



Kirchneriella
0
0
180
Dinobryon
100
0
80
Euglenophyceae



Euglena
80
60
0
Total Kelimpahan (ind./L)
1080
680
1140

            Pengamatan ini dilakukan selama 3 kali yaitu pada pukul 09.00, 12.00 dan 15.00 WIB. Pukul 09.00 WIB ditemukan 4 genus dari kelas berbeda yaitu Melosira, Chroococcus, Dinobryon, Euglena. Pukul 12.00 WIB ditemukan 5 genus yaitu Melosira, Chroococcus, Microcystis, Microspora, Euglena. Pukul 15.00 WIB ditemukan 4 genus yaitu Melosira, Chroococcus, Kirchneriella, Dinobryon. Pada pukul 09.00 WIB fitoplankton yang banyak ditemukan adalah dari genus Chroococcus sebanyak 480 ind/L, pada pukul 12.00 WIB fitoplankton yang mendominasi adalah dari genus Melosira sebanyak 420 ind/L, dan pada pukul 15.00 WIB fitoplankton yang mendominasi dari genus Chroococcus sebanyak 580 ind/L. Menurut Nontji (2006), kelimpahan fitoplankton yang mendominasi di suatu perairan pada pagi, siang atau sore hari tergantung dari kondisi lingkungan tersebut. Kelimpahan fitoplankton selama pengamatan dapat dilihat pada Gambar 2.
 
Gambar 2. Grafik kelimpahan fitoplankton
            Berdasarkan grafik di atas diketahui bahwa terdapat perbedaan kelimpahan pada setiap waktu. Berdasarkan grafik ini pada pukul 09.00 WIB total kelimpahan fitoplankton sebesar 1080 ind/L, pada pukul 12.00 WIB total kelimpahan fitoplankton sebesar 680 ind/L, dan pada pukul 15.00 WIB total kelimpahan fitoplanktonnya sebesar 1140 ind/L. Fitoplankton yang melimpah pada 3 kali pengamatan terutama pada genus Chroococcus yaitu sebesar 1100 ind/L dan terendah pada genus Microcystis yaitu sebesar 60 ind/L. Nilai kelimpahan fitoplankton yang diperoleh tergolong rendah, namun nilai ini tidak menggambarkan nilai kelimpahan fitoplankton untuk Danau Dora karena pengambilan sampel yang dilakukan hanya pada 1 titik pengamatan. Basmi (2000), menyatakan bahwa kelimpahan individu suatu perairan danau dengan kelimpahan ≤10.000 ind/L adalah termasuk dalam perairan dengan tingkat kelimpahan rendah.

5.3 Kondisi kualitas air
            Hasil pengukuran kualitas air selama pengamatan di Danau Dora disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Pengukuran kualitas air Danau Dora (Ecopark)
Parameter
Waktu
09.00
12.00
15.00
Suhu
27,6 0C
29 0C
30 0C
pH
8,51
6,93
6,36
DO
13,43 mg/L
6,85 mg/L
12,26 mg/L
Kecerahan
69 cm
69 cm
80 cm

Hasil pengukuran suhu selama  pengamatan, tidak memperlihatkan adanya perbedaan suhu yang besar.  Secara umum kondisi suhu perairan di Danau Dora yaitu 27-30 0C. Hal ini sesuai dengan pernyataan Effendi (2003), bahwa kisaran suhu yang optimum untuk pertumbuhan fitoplankton di perairan adalah 20-30 0C.
Kisaran nilai pH yang dijumpai selama pengamatan adalah 6 – 8, nilai ini sesuai dengan yang dibutuhkan untuk kehidupan fitoplankton di perairan yaitu 6,5 – 8,0 (Prescod, 1961). Kondisi perairan yang bersifat sangat asam maupun sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan  menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi (Barus, 2004).
Oksigen terlarut / Dissolved Oxygen (DO) merupakan banyaknya oksigen terlarut dalam suatu perairan. Oksigen terlarut merupakan faktor yang sangat penting di dalam ekosistem perairan, terutama sekali dibutuhkan untuk proses respirasi bagi sebagian besar organisme-organisme air. Kisaran niai DO yang dijumpai selama pengamatan yaitu 6,85 – 13,43 mg/L. Kadar oksigen terlarut di perairan tawar seperti danau dan sungai berkisar 8 – 10 mg/L (Effendi, 2003).
Nilai kecerahan yang ada di Danau Dora pada pukul 08.00-12.00 WIB sekitar 69 cm, sedangkan pada pukul 16.00 WIB sekitar 80 cm. hal ini memperlihatkan bahwa kecerahan di perairan tersebut baik untuk proses respirasi dengan kedalaman Danau Dora 125 cm. Menurut Sulawesty et al (2006), tingkat kecerahan di suatu perairan buatan yang kedalamannya 2 m dengan tingkat kecerahan ≥ 2 m masih tergolong baik untuk proses respirasi dan fotosintesis.





BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa; Komposisi fitoplankton yang ditemukan di Danau Dora terdiri dari 7 genus (genera) fitoplankton yaitu Melosira, Chroococcus, Microcystis, Microspora, Kirchneriella, Dinobryon dan Euglena. Kelimpahan fitoplankton tertinggi diperoleh pada pukul 16.00 WIB yaitu 1140 individu/l. Kelimpahan terendah diperoleh pada pukul 12.00 WIB yaitu sebesar 680 individu/l. Kelimpahan fitoplankton secara keseluruhan di dominasi oleh kelas Cyanophyceae dengan jenis yang melimpah yaitu chroococcus.  Hasil pengukuran kualitas air di Danau Dora berada pada kisaran yang sesuai untuk pertumbuhan fitoplankton.

5.2 Saran
            Perlu dilakukan praktek kerja lapangan (PKL) untuk melihat jenis - jenis fitoplankton berdasarkan sebaran spasial dan temporal sehingga kelimpahan fitoplankton yang ada di Danau Dora dapat dilihat dengan baik.



DAFTAR PUSTAKA
Adawiyah. R. 2011. Diversitas Fitoplankton di Danau Tasikardi Terkait dengan Kandungan Karbondioksida dan Nitrogen. Skripsi. Fakultas Sains dan Teknologi. UIN. Press, 27-29 p

Akrimi. dan Subroto. G. 2000. Teknik Pengamatan Kualitas Air Dan Plankton Di Reservat Danau Arang-Arang Jambi. Jurnal. Buletin Teknik Pertanian Vol. 7. Nomor 2. Hal 54-56.

APHA / American Water Work Association /  Water Environment Federation. 1995.    Standard methods for examination of water and wastewater,  19th ed,  Washington DC,  USA,  ISBN.0875532233  DDC:628.161.  I-47 p.

Barus. 2004. Faktor-faktor Lingkungan Abiotik dan Keanekaragaman Plankton sebagai Indikator Kualitas Perairan Danau Toba.  Jurnal Manusia dan Lingkungan,  Vol.XI, No.2.  Juli 2004. hal.61-70.  ISSN : 0854-5510. UGM-Yogyakarta.

Basmi. J. 2000. Planktonologi: Plankton sebagai Bioindikator Kualitas Perairan. Fakultas Perikanan dan Kelautan. IPB. 59 hal.

Boyd, C.E. 1999. Code of Responsible Shrimp Farming. St.Louis, MO.:Global Aquaculture Alliance. 477 pp.

Davis, C.C. 1995. The Marine and Fresh Water Plankton. Michigan State. Univ. Press, 562.

Dawes, C.J.  1981.  Marine Botany.  A Willey Interscience   Publ : 628 p

Efendi, H. 2000. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor. 145 hal.

__________ 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta. 258 p.

Krebs, C.J.1989. Ecological Methodologi. Harper Collins Publisher. New York. 654 pp.

Nontji. 2006. Tiada kehidupan di Bumi Tanpa Keberadaan Plankton. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Pusat Penelitian Oseanografi. Jakarta. 248 hal

Odum, E.P. 1971. Fundamental of Ecology 3rd edition. W.B sounders. Co. Philadephia. 574 pp.

Pirzan, A.M., Utojo, M. Atmomarso, M. Tjaronge, A.M. Tangko, dan Hasnawi. 2005. Potensi lahan budi daya tambak dan laut di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia 11 (5): 43-50. 

Prescot, GW. 1961. How To Know, The Fresh Water Algae. WM.C Brown Company Publishers. IOWA.348 p

Reynolds, C.S., J.G. Tundisi and K. Hino.  1984. Observation on a Metalimnetic Phytoplankton  Population in a Stably Stratified Tropical Lake. Arch. Hydrobyol.  Argentina.  97 : 7 – 17.

Sachlan, M. 1982. Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Correspondence Course Centre. Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, Jakarta. 141 p

Sulawesty, F., Awalina,& S. Sunanisari, 2006,  Phytoplankton Abundance and its Relation to Some Water Quality  in  Lake  Semayang-Melintang  East  Kalimantan,  Presented in poster session in the International Symposium on Nature and Land Management of Tropical Peatland in Southeast Asia. Bogor-INDONESIA, 20-21 Sept 2006, Organized by RC for Biology-The Indonesian Institute of Sciences and Hokkaido  University,  Sapporo-JAPAN.

Yeanni, M.S.  2005. Pengaruh Aktivitas Masyarakat Terhadap Kualitas Air dan Keanekaragaman Plankton di Sungai Belalawan Medan. Jurnal Komunikasi Penelitian Volume 17 Nomor 2. Jurusan FMIPA ISU. 3-5 p





Lampiran . Fitoplankton yang teridentifikasi selama pengamatan
 
a. Chroococcus






Tidak ada komentar:

Posting Komentar